Karna: Saya Siap Berdebat dengan yang Menolak
SINGARAJA – Gubernur Bali Made Mangku Pastika kini tidak sendirian dalam konflik Danau Buyan yang selama ini ditentang kaum konservatif-religius Bali. Gubernur mendapat dukungan penuh dari DPD KNPI Bali.
Dukungan wadahnya kaum muda Bali itu disampaikan langsung Ketua DPD KNPI Bali I Putu Gede Indriawan Karna SH dalam membuka acara Murkab X DPD KNPI Buleleng di Restoran Ranggon Sunset Pantai Penimbangan Singaraja, Jumat kemarin.
Putra hakim bom Bali I (alm) I Made Karna SH, itu meminta semua pihak di Bali untuk berpikir realistis terhadap Bali dan kebutuhan pekerjaan masyarakat itu sendiri. Kalau bicara kawasan suci, menurutnya, maka di Bali ini tidak ada satu jengkal tanah pun yang tidak suci. Sehingga sangat kontraproduktif bila keinginan investor untuk mengelola kawasan Danau Buyan dianggap mencemarkan kawasan suci.
”Kalau bicara kawasan suci, di Bali ini mana si yang bukan kawasan suci. Setiap jengkal tanah di Bali ini adalah suci. Hanya sekarang bagaimana kita memanfaatkan kawasan Danau Buyan itu sambil melestarikan kesucian kawasan itu. Tanah yang kita duduki saat ini pun suci. Tapi kenapa bisa dibangun?” tandas Iwan–sapaan Indriawan Karna ini.
Memberi izin investor untuk kelola Danau Buyan bukan berarti gubernur atau pemberi izin itu telah menghilangkan kesucian kawasan itu. Begitu pula investor yang mendapat izin mengelolanya bukan berarti langsung berbuat semaunya terhadap wilayah itu.
”Kan ada aturan yang mengikat dia seperti IMB (izin mendirikan bangunan) atau lainnya. Kalau berdalih danau dangkal, itu sudah dari dulu memang danau itu dangkal, bukan baru,” tandasnya.
Indriawan Karna yang juga calon DPD RI itu menyebutkan bahwa menurut hitungannya bila investor diberi izin mengelola Danau Buyan seperti membangun panggung terapung atau restoran terapung maka akan menampung tenaga kerja sebanyak 3.000 hingga 6.000 orang.
”Jumlah ini yang formal diperkerjakan oleh investor. Belum lagi yang jualan kecil-kecil di sekitar kawasan itu. Multieffect ekonomi yang ditimbulkan oleh kehadiran investor itu tidak pernah diperhitungkan,” kritik Iwan.
Kata dia, mereka yang kontra megaproyek Danau Buyan hanya bisa mengkritik tapi tidak pernah memberi solusi. Bagi mereka pokoke (yang penting) tapi tidak pernah memberi solusi,” sorotnya .
Apakah Anda tidak takut dengan para tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat yang selama ini kontra terhadap megaproyek itu? Mendapat pertanyaan itu, Iwan tampaknya terpancing dan menyatakan siap berdebat dengan kubu kontra. ”Saya juga orang Hindu, taat kepada Hindu. Siapa sih yang tidak religius. Saya siap berdebat dengan siapa saja tentang ini. Mari kita duduk bersama berbicara dari hati ke hati untuk mencari solusi. Jangan hanya pokoke,” tantang Iwan sambil memperlihatkan foto dirinya yang berpakaian adat Bali di pura. “Lihat ini, saya juga Hindu ini. Jangan hanya bilang kita yang mudah menganggur,” pungkasnya.(frs)